Di tengah dominasi pertanian sayuran seperti sawi di Desa Parakan, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, seorang petani muda bernama Aden (30 tahun) mencoba hal baru yang menjanjikan. Bertempat di Kampung Babakan Jareged RT02 RW09, Aden mulai menekuni usaha tani bawang merah sebagai bentuk inovasi dan diversifikasi pertanian lokal.
Ketertarikan Aden terhadap bawang merah muncul karena ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Mayoritas petani di sini menanam sawi, saya ingin membuktikan bahwa bawang merah juga bisa tumbuh dan memberi hasil yang baik di sini, ujarnya.
Kini, Aden telah menjalani usaha tani bawang merah selama lebih dari satu tahun. Ia mengelola lahan seluas 200 tumbak dengan jenis bawang Tuktuk, yang dikenal cocok untuk iklim dataran tinggi seperti di wilayah Garut. Dari proses penanaman hingga panen membutuhkan waktu sekitar 65 hari, tergantung pada kondisi bibit dan penyimpanannya.
Namun, bertani bawang tidak selalu mudah. Cuaca hujan yang tidak menentu sering menjadi tantangan utama, karena membuat tanaman mudah terserang hama putih, yang bisa merusak hasil panen. Untuk itu, Aden melakukan penyemprotan obat dua kali seminggu, tergantung cuaca, sebagai bentuk pencegahan terhadap hama.
Selain itu, pemantauan langsung secara rutin menjadi bagian penting dari keseharian Aden di lahan. Ia selalu turun langsung ke kebun untuk mengecek kondisi tanaman agar bisa segera bertindak jika ada gangguan.
Saat panen tiba, hasil bawang merah dari ladang Aden biasanya dijual ke bandar, dengan harga yang mengikuti harga pasar saat itu. Meski usahanya masih terbilang baru, semangat Aden menjadi inspirasi bagi petani muda lainnya yang ingin mencoba bertani dengan pendekatan berbeda dan potensi hasil yang menjanjikan.
Tim Liputan Desa Parakan……